Seperti Apa Tren Teknologi Industri Tahun 2022 Nanti? Image

Seperti Apa Tren Teknologi Industri Tahun 2022 Nanti?

Time 05 Aug 2021  |  By Acer Indonesia

Teknologi industri diprediksi akan menjadi tren yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi dalam negeri pada 2022. Sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan satu dari 17 sektor industri yang menyumbang PDB negara Indonesia. Meski demikian, sektor ini belum memiliki penjabaran sub-sub sektor yang rigid seperti industri lainnya.

 

Meski di tengah situasi pandemi Covid-19, sektor TIK menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Pada kuartal triwulan ketiga 2020, menyumbang sekitar belasan triliun rupiah PDB. Sementara menurut proyeksi Badan Kebijakan Fiskal (BKF), pada 2021 sektor ini akan tumbuh antara 9,1 dan 10,1 persen tahun ini dan 9,8 hingga 10,3 persen pada 2022. Hal ini disebabkan oleh peningkatan traffic penggunaan internet serta pelanggan jasa internet di masa pandemi.

 

Lalu, seperti apa tren teknologi industri pada 2022 nanti? Mari simak lebih lanjut melalui artikel ini.

 

Masa Depan Teknologi Industri pada 2022

 

                              masa-depan-tren-teknologi-industri-2022

 

Harus diakui, pada masa pertumbuhan dan percepatan transformasi digital, banyak tantangan yang akan dihadapi. Bagi pemerintah dan perusahaan yang berkecimpung di dunia Big Data, permasalahan lintas sektor keamanan akan dihadapi. Ini berkat pertumbuhan penyimpanan data yang besar dan munculnya analitik data. Tentu, harus ada regulasi untuk bisa menyeimbangkan keamanan dan privasi di lingkungan Big Data ini.

 

Sementara pada sektor industri teknologi, sorotannya mengenai keberlanjutan. Dapatkah mobil listrik, lampu LED, baterai dan chip baru, serta peningkatan penggunaan energi terbarukan beradaptasi dengan peningkatan penggunaan energi dan ledakan dalam penggunaan komputasi?

 

Pertanyaan tersebut juga berhubungan dengan upaya Indonesia dalam pertumbuhan industri teknologi dan peraturan belajar atau bekerja dari rumah yang diyakini memengaruhi keputusan terhadap pengeluaran atau belanja teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK).

 

Berdasarkan laporan dari International Data Corporation (IDC) memperkirakan pengeluaran atau belanja TIK di Indonesia akan tumbuh lebih dari eknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)8 persen mencapai 30,1 miliar dolar AS pada 2021, dan mencapai 33,9 miliar dolar AS pada 2024.

 

Dari keputusan belanja TIK, tentu berdampak pada permintaan barang pada industri teknologi. Salah satu prediksinya adalah pengeluaran perusahaan di Indonesia untuk belanja Internet of Things (IoT) akan tumbuh signifikan pada tahun-tahun mendatang.

 

IoT menjadi salah satu teknologi akselerator inovasi yang akan memiliki peran signifikan di Indonesia terutama dengan tren industri 4.0 dengan program Making Indonesia 4.0 yang direncanakan pemerintah sejak 2018 dan contactless operation yang semakin tingkatkan oleh perusahaan di Indonesia sebagai respons pandemi Covid-19.

 

Country Head of Operations IDC Indonesia Mevira Munindra, mengatakan bahwa IDC melihat momentum transformasi digital dan revolusi industri di Indonesia ini akan mempercepat laju belanja IoT di Indonesia dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) pada 2020—2024 sebesar 9,4 persen.

 

Dampaknya, industri manufaktur akan menjadi sektor yang signifikan dalam perkembangan IoT di Indonesia. Salah satunya, Acer Manufacturing Indonesia yang sejak 2019 sudah memperkenalkan solusi teknologi IoT di Tanah Air, antara lain Smart Water, Smart AgricultureDigital Signage. Solusi IoT yang disiapkan Acer menjadi bentuk kesiapannya sebagai perusahaan teknologi dalam menyambut era industri 4.0.

 

Teknologi IoT juga bisa membantu perusahaan dan pemerintah mewujudkan Smart City dengan membuat kota semakin nyaman, aman, efektif, dan efisien, serta meningkatkan daya saing pertumbuhan ekonomi. Dorongan inisiatif Indonesia 4.0 tersebut bertujuan untuk meningkatkan kontribusi industri manufaktur kepada ekonomi Indonesia menjadi 25 persen sampai 2025.

 

Mengingat bahwa daya saing industri manufaktur di era knowledge based economy akan semakin bergantung pada kapasitas penguasaan inovasi dan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, maka diperlukan upaya mendorong berkembangnya industri manufaktur skala besar dan berteknologi tinggi. Di sisi lain, perlunya mempersiapkan SDM serta infrastruktur (baik soft atau hard infrastruktur) untuk menyongsong perubahan di masa yang akan datang.

 

Baca juga: Cara Acer Memberikan Solusi Melalui Teknologi IoT

 

Prediksi Tren Teknologi Industri hingga 2022

 

                          prediksi-tren-teknologi-industri-2022

 

Sektor yang diprediksi memberikan peran penting pada kinerja ekonomi pada tahun-tahun mendatang adalah sektor jasa yang mengadopsi teknologi tinggi, seperti sektor informasi dan komunikasi, jasa keuangan, serta sebagian jasa perdagangan ritel.

 

Perubahan paradigma ekonomi ini sebagai respons pandemi yang mendorong pola penggunaan intensif teknologi informasi, seperti bekerja, belajar, dan belanja dari rumah yang diperkirakan menjadi gaya hidup baru yang akan terus berkembang. Dampak ini juga didukung oleh struktur penduduk yang didominasi kaum milenial.

 

Dengan demikian, hal ini mendorong kinerja sektor-sektor terkait tumbuh di atas rata-rata nasional. Sektor informasi dan komunikasi diperkiraan tumbuh di kisaran 8,3—10,1 persen, sementara jasa keuangan diharapkan tumbuh di kisaran 5,6—6,8 persen. Dari hal tersebut, berikut prediksi tren teknologi industri hingga 2022:

 

1. Digitalisasi Ekonomi

 

Pada 2022, lebih dari 61 persen PDB Indonesia akan masuk tahap digitalisasi, dengan pertumbuhan tiap sektor industri didorong meningkatnya penawaran, operasional, dan hubungan dengan Indonesia. Pertumbuhan digital akan mendorong belanja teknologi informasi sebanyak 78 miliar dolar mulai dari 2019 hingga 2022.

 

2. Expand to the Edge

 

Lebih dari 15 persen penggunaan cloud pada perusahaan atau organisasi Indonesia akan meliputi edge computing pada 2022. Sementara 10 persen sistem dan endpoint device akan menggunakan algoritma kecerdasan buatan.

 

3. Revolusi Pengembang Aplikasi

 

Sebanyak 40 persen dari seluruh aplikasi baru akan menjadi fitur microservice architecture untuk peningkatan kemampuan merancang, debug, pembaruan, dan memanfaatkan kode dari pihak ketiga. Pada 2022, 15 persen aplikasi akan menjadi cloud native.

 

4. Ledakan Inovasi Digital

 

Mulai dari 2018 hingga 2023, akan ada alat dan platform baru yang juga memunculkan lebih banyak pengembang aplikasi. Pemanfaatan metode yang adaptif dan penggunaan coding akan memunculkan lebih dari lima juta aplikasi baru.

 

5. Tampilan Antarmuka Baru pada AI

 

Pada 2024, kecerdasan buatan akan memungkinkan tampilan antarmuka dan proses otomasi menggantikan sebagian aplikasi berbasis layar saat ini. Lalu pada 2022, 10 persen dari perusahaan Indonesia menggunakan teknologi conversational speech untuk berhubungan dengan pelanggan.

 

6. Kepercayaan yang Meningkat

 

Pada 2022, ada prediksi 10 persen dari server akan mengenkripsi data pada saat istirahat maupun saat aktif. Sementara itu, lebih dari 10 persen peringatan ditangani kecerdasan buatan dan sekitar 2 juta orang akan memiliki identitas digital berbasis blockchain. Teknologi ini terhubung dengan kriptografi dan penggunaannya tidak bisa dilepaskan dari cryptocurrency.

 

7. Consolidation vs. Multi-cloud

 

Empat mega platform komputasi awan akan menguasai 60 persen penyebaran Internet as a Service/Platform as a Service pada 2022. Sementara itu, 40 persen perusahaan di Indonesia akan mengurangi penguncian melalui multi cloud/teknologi hybrid.

 

Baca juga: Tren Bisnis Masa Kini, Seperti Apa di 2021?

 

Pandemi Covid-19 menyebabkan perubahan sosial yang digital melambungkan pertumbuhan sektor teknologi industri dan komunikasi. Dalam hal ini, pemerintah juga perlu menyediakan infrastruktur digital yang diperlukan dan mendukung percepatan transformasi digital. Keadaan ini menjadi new normal bagi Indonesia dan berbagai negara di dunia, mengingat sektor TIK dan ranah digital akan terus berkembang.

Kontak Acer