Perbedaan B2B dan B2C Serta Contoh Bisnisnya di Indonesia Image

Perbedaan B2B dan B2C Serta Contoh Bisnisnya di Indonesia

Time 18 Feb 2022  |  By Acer Indonesia

B2B Body Image

 

Ada banyak istilah marketing yang perlu ketahui jika terjun ke dunia bisnis. Salah satunya adalah B2B dan B2C. 

Apakah Anda familier dengan istilah tersebut? 

Jika belum, artikel ini akan menjelaskan kepada Anda; apa itu B2B dan B2C, serta apa saja perbedaannya secara target konsumen, strategi dan relasi dengan konsumen. Simak penjelasannya berikut ini.



Perbedaan Bisnis B2B dan B2C

Business to business (B2B) adalah model penjualan antara pelaku bisnis dengan pelaku bisnis lainnya. 

Contoh bisnis B2B adalah ketika Anda menjalankan bisnis penyuplai bahan pakaian, dan mendistribusikan produk tersebut ke toko-toko atau bisnis fashion yang ada, sedangkan Business to customer (B2C) adalah model penjualan antara pelaku bisnis dengan konsumen. 

Model B2C mungkin akan lebih familier dan sering ditemukan dalam kegiatan sehari-hari, seperti pedagang makanan atau pekerja yang menawarkan objek dagangan atau jasanya.

Bisnis B2B dan B2C terlihat sama. Namun, jauh berbeda kalau dibandingkan dari aspek target pasar, strategi pemasaran, dan relasinya dengan pembeli. 

Berikut ini penjelasan lebih detail tentang perbedaan B2B dengan B2C dari tiga aspek:

 

1. Target Pasar

Dari penjelasan sebelumnya, B2B dan B2C memiliki perbedaan target pasar yang cukup jelas. B2B menyasar pelaku bisnis, sedangkan B2C lebih menyasar penjualan langsung ke konsumen perorangan. 

Inilah yang menjadi alasan mengapa prospek pasar B2B cenderung lebih kecil. Sebab jumlah pengusaha atau produsen lebih sedikit dan spesifik daripada konsumen perorangan. 

Berbeda dengan B2C yang punya pangsa pasar lebih besar dan luas. Bahkan pada beberapa bidang, bisa dibilang besaran pasarnya hampir tak terbatas. 

Namun, model bisnis B2C tidak bisa langsung dicap sebagai bisnis yang lebih baik daripada B2B. Karena bisnis tak sekadar dinilai dari pangsa pasarnya, tetapi juga kapitalisasi pasarnya; atau potensi jumlah nilai transaksi di dalamnya.

 

2. Strategi Pemasaran

Dalam konteks mengejar omzet, antara bisnis B2B dan B2C, butuh strategi pemasaran yang berbeda. 

Umumnya, bisnis B2B tak membutuhkan frekuensi transaksi yang sering. Akan tetapi, besaran transaksinya jauh lebih besar ketimbang bisnis B2C. 

Contoh: perusahaan otomotif yang memproduksi bus atau truk komersial. Jika dibanding produsen mobil pribadi, jumlah kendaraan yang diproduksi kalah jauh. Namun, harga sebuah bus atau truk bisa setara puluhan mobil pribadi. 

Beda halnya dengan bisnis B2C. Secara umum, perusahaan B2C mengejar penjualan barang atau jasa dalam jumlah besar. Artinya, kegiatan pemasaran yang dilakukan pun dilakukan secara masif ke banyak orang. 

 

3. Relasi dengan Pembeli

Proses pengambilan keputusan yang dilakukan konsumen B2B dan B2C pun berbeda. Ini membuat relasi antara pembeli dengan perusahaan pun berbeda.

Seorang konsumen dari perusahaan B2B, biasanya butuh waktu lebih panjang dan rumit untuk memutuskan pembelian. Dengan begitu, konsumen cenderung loyal pada satu perusahaan B2B demi menghemat waktu di setiap transaksi. 

Tentunya di dalam transaksi B2B, kepuasan pembeli dan reputasi bisnis tetap memiliki andil dalam proses keputusan pembelian. Jika konsumen puas, mereka mungkin tidak akan berpikir dua kali untuk menggunakan supplier yang sama dalam jangka panjang. 

Hal berbeda terjadi di transaksi B2C. Karena transaksi cenderung berdasarkan motivasi personal dan proses keputusan cepat, masa hubungan antara penjual dan pembeli pun jauh lebih singkat. Bahkan, seorang konsumen dapat dengan mudah berpindah-pindah merek, meskipun tak ada keluhan.

 

Contoh Bisnis B2B dan B2C di Indonesia

Berikut ini contoh bisnis B2B di Indonesia yang mulai unjuk diri:

  • Bizzy
  • Mbiz
  • Ralali
  • Monotaro

 

Berikut ini contoh bisnis B2C di Indonesia:

  • Tokopedia
  • Bukalapak
  • Blibli
  • Gojek
Kontak Acer