Penerapan Gaya Kepemimpinan Partisipatif untuk Keputusan Bersama Image

Penerapan Gaya Kepemimpinan Partisipatif untuk Keputusan Bersama

Time 01 Jul 2021  |  By Acer Indonesia

Setiap pemimpin memiliki leadership style yang berbeda untuk memajukan perusahaannya. Seorang pebisnis harus memiliki dan menerapkan kepemimpinan yang efektif dalam menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan meningkatkan kinerja timnya untuk mengembangkan bisnis. Ada beberapa gaya leadership, salah satunya adalah kepemimpinan partisipatif yang semakin populer diterapkan di dunia kerja.

 

Pemimpin partisipatif biasanya memiliki konsep kepemimpinan yang terbuka karena  memberikan kesempatan bagi para anggota tim untuk berkembang. Ini menjadi gaya yang cocok untuk para manajer yang tertarik pada kontribusi seluruh tim dalam pengambilan keputusan. Lalu, seberapa berpengaruhnya pada bisnis jika gaya ini diterapkan pada dunia kerja?

 

Pada artikel ini, mari membahas apa itu kepemimpinan partisipatif dan cara kerjanya, serta manfaat dalam tim kerja dan karakter yang harus dimiliki pemimpin partisipatif.

 

Cara Kerja Gaya Kepemimpinan Partisipatif

 

cara-kerja-gaya-kepemimpinan-partisipatif

 

Kepemimpinan partisipatif adalah gaya leadership di mana semua anggota bekerja sama untuk membuat keputusan, terlepas dari jabatan dan pangkatnya. Tipe ini juga dikenal sebagai kepemimpinan demokratis, karena setiap orang mempunyai peranan penting dan dilibatkan dalam pemecahan masalah.

 

Peran pemimpin partisipatif lebih sebagai moderator atau fasilitator untuk menawarkan bimbingan dan menjaga diskusi tetap seimbang serta terkendali. Maka dari itu, pemimpin yang menerapkan gaya ini tidak hanya duduk diam dan memberikan banyak perintah, tetapi juga ikut berpartisipasi.

 

Bagaimana cara kerja gaya kepemimpinan partisipatif? Mari simak langkah-langkahnya di bawah ini.

 

1. Memulai Suatu Diskusi

 

Langkah pertama, pemimpin berkewajiban memulai suatu pembicaraan, sekaligus memiliki wewenang menetapkan prosedur atau SOP diskusi berlangsung. Aturan tersebut bersifat tetap meski topik yang didiskusikan berbeda-beda. Contohnya, masing-masing anggota mengungkapkan pendapatnya, kemudian sang pemimpin merespons atau menambahkannya. 

 

2. Memberikan Insight

 

Langkah kedua, seorang pemimpin dianjurkan memberikan informasi yang dibutuhkan saat pemecahan masalah berupa insight kepada anggota timnya. Pengetahuan tersebut bisa berbentuk skill berdasarkan pengalamannya. Informasi ini penting dibagikan bukan hanya menambah ilmu para karyawan, tapi juga jadi pendukung mereka dalam mengemukakan pendapat, memberikan saran, maupun ide.

 

Pemimpin partisipatif juga harus bisa menentukan mana informasi dan pengetahuan yang bisa dibagikan, mana yang tidak bisa. Meski hanya insight, jika salah sasaran, bisa dimaknai berbeda karena tingkat pengetahuan yang tidak setara. Akibatnya, bisa memengaruhi pengambilan keputusan.

 

3. Memotivasi Anggota Mengungkapkan Ide atau Solusi

 

Langkah ketiga, pemimpin partisipatif harus bisa mendorong para anggota tim untuk memberikan pendapatnya masing-masing dari sebuah masalah yang ingin dipecahkan. Caranya dengan melakukan brainstorming yang dapat mengasah kreativitas anggota. Pemimpin juga bisa juga menciptakan lingkungan kerja yang lebih terbuka agar karyawan merasa dihormati dan tidak malu menyuarakan ide.

 

4. Memproses Ide dan Informasi

 

Langkah keempat, pemimpin merangkum ide dan informasi untuk kelompok. Setelah itu, menganalisis, mengeksplorasi, dan memahami semua pro-kontra dari informasi yang telah dikumpulkan.  Dalam gaya kepemimpinan partisipatif, pemimpin perlu memilah mana informasi terbaik yang akan dijadikan sebagai dasar pemecahan suatu masalah. 

 

5. Membuat Sebuah Keputusan Terbaik

 

Langkah kelima, pemimpin mengambil keputusan dari informasi yang sudah dianalisis. Pada umumnya, proses decision-making bergantung pada dimensi partisipasinya. Pemimpin partisipatif biasanya membuat keputusan berdasarkan konsensus, di mana semua anggota tim setuju dengan keputusan yang diambil. 

 

6. Mengomunikasikan Keputusan yang Telah Diambil

 

Langkah terakhir, pemimpin wajib menginformasikan keputusan tersebut kepada seluruh anggota tim dan memberikan alasan yang tidak merugikan pihak mana pun. Pada bagian ini, anggota bisa memberikan saran atau kritik dari keputusan yang telah ditentukan. Setelah itu, baik pemimpin maupun anggota sama-sama melaksanakan keputusan tersebut sesuai peran dan tugasnya masing-masing.

 

Baca juga: Membangun Teamwork, Pahami Definisi dan Manfaatnya dalam Bisnis

 

Manfaat Kepemimpinan Partisipatif dalam Tim Kerja

 

manfaat-kepemimpinan-partisipatif

 

Gaya kepemimpinan partisipatif merujuk pada proses decision-making di lingkup kecil, seperti per divisi, bukan dalam bidang besar yang memengaruhi keseluruhan organisasi. Meski begitu, tipe ini bisa meningkatkan kesadaran anggota terhadap persoalan-persoalan untuk melihat perspektif baru.

 

Baik bagi atasan dan bawahan, gaya kepemimpinan partisipatif memberikan manfaat potensial, yaitu:

  1. Meningkatkan produktivitas tim, karena merasa pekerjaan dan suara mereka dihargai.
  2. Mendorong solusi atau ide yang kreatif dari berbagai pemikiran dan cara baru yang inovatif.
  3. Karyawan bersedia bekerja sama dalam mencari suatu pemecahan masalah.
  4. Menumbuhkan loyalitas karyawan sehingga meningkatkan retensi karyawan dan mengurangi turnover.
  5. Mengurangi persaingan dan meningkatkan kolaborasi.
  6. Keputusan yang diambil biasanya lebih dapat diterima oleh para anggota.
  7. membentuk sebuah kesatuan tim yang solid.

 

Namun di sisi lain, kekurangan gaya kepemimpinan partisipatif adalah tidak cocok untuk pengambilan keputusan di saat kritis. Menyatukan berbagai jenis ide bukanlah hal mudah dan membutuhkan waktu yang lama. Ditambah lagi, adanya ketidaksepakatan bisa menyebabkan konflik antaranggota, terutama jika ada yang merasa pendapatnya tidak dihormati.

 

Baca juga: 6 Kemampuan Komunikasi Bisnis yang Penting Dikuasai

 

Karakter yang Harus Dimiliki Atasan dalam Kepemimpinan Partisipatif

 

karakter-yang-harus-dimiliki-atasan-kepemimpinan-partisipatif

 

Menjadi pemimpin partisipatif bukan hadir dalam memberi perintah, melainkan tampil sebagai fasilitator. Dengan demikian, jadi tantangan bagi seorang pemimpin dalam mengarahkan anggota untuk mendapatkan hasil keputusan bersama. Ingin menerapkan kepemimpinan partisipatif? Sebaiknya Anda memiliki beberapa karakter di bawah ini.

 

1. Approachable (Mudah Didekati)

 

Gaya kepemimpinan partisipatif tidak akan efektif jika karyawan merasa tidak nyaman untuk mendekati sang pemimpin. Maka dari itu, pemimpin perlu menjadi seseorang yang mudah bergaul.

 

2. Good Communicator (Pembicara yang Baik)

 

Pemimpin partisipatif juga perlu pandai dalam berbicara. Mengingat gaya kepemimpinan ini memerlukan dua aspek penting dalam komunikasi, yaitu kemampuan memberikan dan menerima informasi.

 

3. Thoughtful (Bijaksana)

 

Apa pun gaya kepemimpinannya, seorang pemimpin harus bijak, terutama soal decision-making. Kebijaksanaan tersebut membantu pemimpin dalam menghadapi tim yang berisi orang-orang dengan karakter yang berbeda-beda. 

 

4. Open Minded (Berpikiran Terbuka)

 

Seorang pemimpin partisipatif juga perlu open minded dalam segala hal. Ini diperlukan karena beragamnya ide dan pendapat dari karyawan bisa bertentangan dengan kehendak sang pemimpin. Maka dari itu, untuk menerima semua masukan, haruslah berpikiran terbuka.

 

5. Empowering (Memberdayakan)

 

Seorang pemimpin dengan gaya kepemimpinan partisipatif harus bisa memberdayakan para anggotanya. Pastikan mereka memiliki kesempatan belajar dan mengembangkan diri, bukan hanya dari proses brainstorming, tetapi juga dari hasil keputusan yang dijalankan bersama.

 

Oleh karena itu, sudah menjadi tugas seorang pemimpin dalam memberikan keleluasaan bagi karyawan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang positif dan pemimpin di masa depan.

 

6. Empathy (Rasa Empati)

 

Pemimpin  partisipatif juga harus memiliki rasa empati kepada para anggota. Apalagi, gaya kepemimpinan ini berkaitan dengan perasaan, di mana kestabilan emosi harus dijaga. Jika tidak, bukannya melerai konflik antaranggota saat brainstorming, malah menambah konflik baru dengan anggota.

 

Baca juga: 10 Soft Skill Penting yang Dibutuhkan dalam Dunia Kerja

 

Gaya kepemimpinan ini dapat digunakan ketika Anda sedang memulai suatu proyek yang memerlukan proses waktu cukup lama. Anda dapat meminta opini pegawai, mengasah kreativitas mereka, serta membagi tugas sesuai keahlian. Jika gaya ini cocok, Anda dapat menuntun pegawai pada tujuan proyek atau perusahaan. Dengan demikian, tugas akan berjalan lebih baik dan lebih menyenangkan.

Kontak Acer