Mengurangi Tingkat Kecelakaan Berkendara dengan Bantuan AI  Image

Mengurangi Tingkat Kecelakaan Berkendara dengan Bantuan AI

Time 11 Jan 2022  |  By Acer Indonesia

Transportasi darat menjadi tumpuan aktivitas manusia saat ini. Tidak berlebihan jika, ketergantungan manusia pada mobil dan motor sangatlah tinggi. Tanpa kendaraan tersebut aktivitas bisa terhambat dan berbagai aktivitas dan rencana jadi berantakan. 

Sayangnya semakin bertambahnya kendaraan di jalan, kecelakaan juga semakin sering terjadi. Beragam faktor yang membuat kecelakaan terjadi, beberapa diantaranya antara lain: karena kelalaian manusia, infrastruktur jalan yang tidak sempurna hingga kondisi kendaraan yang dikendarai.   

Tingkat Kecelakaan Tahun 2020 Menurun, Apa Penyebabnya?

Data dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri) per 6 November 2021, jumlah kecelakaan lalu lintas sepanjang dua tahun antara 2019-2020 memang mengalami penurunan. Total kecelakaan yang terjadi pada tahun 2019 sebesar 116.411 kasus sedangkan pada tahun 2020 mencapai 100.028 kasus. 

 

Penurunan kecelakaan sayangnya bukan terjadi karena faktor pencegahan tapi karena adanya pandemi Covid-19 yang membuat mobilitas masyarakat mengalami penurunan. Sebab berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik sepanjang tahun 2016-2018 angka kecelakaan mengalami kenaikan. 

 

Jumlah kecelakaan pada tahun 2017 dari data BPS mencapai 104.327 kasus, lalu tahun 2018 sebesar 2019.215 kasus dan terakhir pada tahun 2019 sebanyak 116.411 kasus. Mengapa tren kecelakaan di Indonesia naik? Berikut lima faktor penyebabnya. 

1. Minim Rambu Lalu-lintas

Tingkat kewaspadaan pengendara sering kali menurun karena jalan yang dilewati sangat terbatas rambu jalan. Padahal rambu sangat penting untuk memberitahukan pengemudi jalan menikung, menurun atau bergelombang. Peringatan tersebut tentu dapat membuat pengemudi lebih waspada. 

2. Marka Jalan Tidak Ada 

Seperti rambu, marka jalan punya fungsi penting sebagai panduan pengemudi mengarahkan kendaraan mereka. Lintasan kendaraan yang diperbolehkan dapat diketahui dari marka jalan. Ketika di jalan tidak ada marka, pengemudi bisa kehilangan kewaspadaan. 

 

Baca Juga: 5 Teknologi Ramah Lingkungan yang Bisa Membantu Perusahaan untuk Go Green

 

3. Jalan Berlubang 

Jalan yang berlubang berisiko menciptakan kecelakaan tunggal. Apalagi jika pengendara dalam kondisi tidak sehat untuk berkendara, tentu berisiko terjadi kecelakaan. 

4. Minimnya Penerangan 

Jalan yang gelap membuat daya mata pengendara minim. Tidak hanya cukup bila mengandalkan cahaya dari lampu kendaraannya, tapi juga harus didukung oleh lampu jalanan. Sebab sering kali pengemudi mengantuk apabila penerangan minim.

 

 

AI Dapat Menurunkan Persentase Kecelakaan Hingga 90%

Di tengah teknologi yang terus berkembang dan banyak membantu manusia tak terkecuali dalam berkendara. Kecerdasan buatan atau yang dikenal dengan Artificial Intelligence (AI) telah dipasang dalam industri otomotif. 

 

Fungsinya tentu mempermudah pengemudi saat berkendara. Bahkan, dengan ditanamnya AI dalam kendaraan diklaim dapat menurunkan angka kecelakaan hingga 90%. 

 

AI yang diciptakan ditanam dalam mesin dan dibuat mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata. Bahkan sejalan dengan kemajuan teknologi, self driving cars menjadi tren otomotif saat ini. 

 

AI yang ditanam dalam kemudi untuk self driving cars melengkapi kemampuan pengemudi ketika harus berkendara. Sehingga, tentu pengemudi dapat berkendara lebih aman. 

 

Baca lagi: Smart Living, Konsep Hidup Cerdas yang Dihadirkan Teknologi IoT

 

Saat ini sejumlah produsen mobil mulai ramai-ramai menggunakan AI untuk melengkapi tingkat keamanan kendaraan mereka. Honda misalnya telah menggunakan AI yang bisa membuat pengemudi lebih tenang ketika berkendara. Bahkan tersedia sensor dan kamera bantuan untuk memantau jalan dan pengemudi, sehingga pengemudi dapat mendeteksi risiko yang terjadi ketika berkendara secara real time. 

Bagaimana Cara Kerja AI?

Penggunaan AI dalam kendaraan telah dilengkapi dengan sensor, kamera dan radar yang kemudian saling bekerjasama dalam sebuah sistem untuk memberikan pesan atau peringatan kepada pengemudi bila timbul atau adanya potensi bahaya. 

 

Berikut tahapan cara kerja AI dalam sebuah kendaraan, ketika mendeteksi sebuah kendaraan:

  • Menghitung Rute Perjalanan 

Pengemudi (atau penumpang) menetapkan tujuan selanjutnya perangkat lunak mobil menghitung rute. 

  • Sensor Mempelajari Kondisi Sekitar 

Sensor Lidar yang berputar di atap memantau jarak 60 meter di sekitar mobil. Selanjutnya sensor tersebut membuat peta tiga dimensi (3D) dinamis dari sekitar lingkungan mobil. Sedangkan sensor yang berada di roda belakang kiri memantau gerakan menyamping untuk mendeteksi posisi mobil dan jarak mobil lain. 

  • Radar menghitung jarak 

Selanjutnya sistem radar di bumper depan dan belakang membantu menghitung jarak mobil dengan rintangan yang akan dihadapi.

 

Baca Juga: Mengulas Mobil Terbang, Teknologi Canggih Masa Depan Transportasi Dunia

 

  • Menghimpun Data 

Perangkat AI di dalam mobil yang terhubung pada sensor, mulai mengumpulkan data dari Google Street View dan kamera video di dalam mobil.

  • Mengendalikan Rem dan Kemudi

AI mensimulasikan proses persepsi dan pengambilan keputusan manusia menggunakan pembelajaran mendalam dan tindakan kontrol dalam sistem kontrol pengemudi, seperti kemudi dan rem.

  • Memberi Informasi tentang Kondisi Jalan 

Perangkat lunak mobil bersama dengan Google Maps bekerjasama untuk mengirimkan pemberitahuan tentang: marka jalan, rambu lalu lintas, dan lampu.

Kontak Acer